Liturgi Sepanjang Tahun

1. Masa Adven

Masa Adven mulai pada hari Minggu keempat sebelum Natal. Natal selalu dirayakan pada tanggal 25 Desember. Selama masa Adven kita mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Kristus dengan sebaik-baiknya. Adven berasal dari kata Latin “Adventus”, yang berarti “kedatangan”. Pada masa ini imam memakai kasula berwarna ungu. Warna ungu berarti; prihatin, matiraga, tobat. Dalam masa Adven nyanyian “Kemuliaan” ditiadakan.

Nyanyian gembira itu berasal dari para malaikat yang bernyanyi di Betlehem, ketika Yesus lahir. Pada masa Adven kita tidak menyanyikannya dulu. Kita mau prihatin. Baru dalam Misa Malam Natal kita menyanyikan bersama para malaikat, sebagai tanda kegembiraan kita atas kelahiran Kristus.

 

2. Masa Natal

Masa Natal dimulai dari malam Natal sampai hari raya Pembaptisan Tuhan. Kita merayakan kelahiran Yesus di kandang Betlehem. Putera Allah menjelma untuk menjadi Penebus kita. Ia turun dari surga membuka pintu surga bagi kita, kita bersukaria karena Allah telah menebus kita. Maka pada hari Natal imam memakai kasula berwarna putih. Sebab putih adalah warna kegembiraan.

Pada hari  Minggu setelah Natal kita merayakan Keluarga Kudus, yaitu Yesus, Maria dan Yusuf. Keluarga kudus merupakan teladan bagi keluarga-keluarga kita.

Pada tanggal 28 Desember kita merayakan Pesta Kanak-Kanak Suci, yaitu anak-anak kecil di Betlehem dibunuh atas perintah Raja Herodes. Dengan cara demikian Herodes mau membunuh Yesus yang baru lahir. Tetapi Yusuf yang telah diberi-tahu malaikat sudah lebih dahulu mengungsikan Yesus. Kanak-kanak Betlehem telah wafat bagi Kristus. Maka pada hari ini mereka dirayakan sebagai orang kudus.

Tepat seminggu setelah hari Natal (1 Januari) kita merayakan Santa Maria, Bunda Allah. Kelahiran  seorang anak merupakan hari raya bagi ibunya. Apalagi kalau yang lahir Yesus, Putera Allah sendiri yang telah menjelma. Maka Bunda Yesus kita rayakan sebagai Bunda Allah. Tanggal 1 Januari juga dirayakan sebagai Hari Perdamaian Dunia.

Tanggal 6 Januari atau sekitar tanggal itu dirayakan Penampakan Tuhan (kadang masih “Tiga Raja”). Kita memperingati kedatangan sarjana-sarjana dari Timur untuk menyembah Kanak-Kanak Yesus. Hari itu dinamakan “Penampakan Tuhan” sebab bintang menunjukkan kepada mereka tempat Yesus berada, Yesus sebagai Raja baru yang mereka cari. Yesus telah datang sebagai Raja semua orang.

Masa Natal berakhir pada hari Minggu setelah 6 Januari, yaitu hari raya Pembaptisan Tuhan. Dalam keluarga Katolik biasanya kalau kita masih kecil sudah di baptis, tetapi tidak bagi Yesus, Ia di baptis ketika berumur 30 tahun. Yesus meninggalkan Nazaret dan dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Setelah itu Ia mulai berkeliling mewartakan Kerajaan Allah di seluruh Tanah Suci. Karena Yesus sudah memulai tugasnya, maka pada hari ini masa Natal berakhir.

3. Masa Prapaska atau puasa

Masa Puasa mulai pada hari Rabu Abu dan berlangsung selama 40 hari (hari Minggu tidak terhitung). Dalam Perjanjian Lama, orang Israel mengembara di padang gurun selama 40 tahun setelah dibebaskan dari perbudakan Mesir. Selama 40 tahun itu mereka belajar mengenal Allah dan percaya. Dari Injil kita mengetahui bahwa Yesus juga berpuasa selama 40 hari, setelah dibaptis oleh Yohanes.

Hari pertama dalam masa Puasa adalah Rabu Abu. Pada hari ini kita menerima salib abu di dahi, untuk mengingatkan bahwa kita dari debu dan kembali kepada debu. Maka kita berniat akan hidup untuk hal yang penting. Kita mau bertobat dan melakukan matiraga atas segala dosa kita dengan pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian.

Masa Prapaska berakhir pada hari Minggu Palma, dan akan di mulai Trihari Suci. Minggu Palma adalah hari pertama dari Minggu Suci, yang akan berlangsung sampai Sabtu Sepi. Dinamakan Minggu Suci karena penderitaan dan wafat Yesus telah dibuka kembali bagi kita.

4. Tri Tunggal

Selama tiga hari kita memperingati penderitaan, wafat serta kebangkitan Kristus. Mulai dari Kamis Putih sampai Minggu Paska. Oleh penderitaan, wafat dan kebangkitan Kristus kita telah ditebus. Itulah peristiwa paling penting yang pernah terjadi. Maka dari itu Trihari Suci merupakan perayaan terbesar dalam tahun liturgi.

Pada hari Kamis Putih, Yesus telah mengadakan perjamuan malam terakhir bersama dengan para muridNya. Perjamuan terakhir itu merupakan pertama kalinya dilakukan Yesus bersama para murid. Peristiwa yang penting pada hari ini adalah pembasuhan kaki, Yesus yang menjelma menjadi manusia masih mau untuk melayani para muridNya dengan membasuh kaki. Apakah kita dapat berbuat seperti yang Yesus lakukan?

Pada hari Jumat Agung, kita mau mengenangkan penderitaan Yesus. Didera, dijatuhi hukuman mati dan disalibkan. Sekitar jam tiga Yesus wafat. Maka dari itu diadakan upacara penghormatan salib suci.

Pada hari Sabtu dalam Trihari Suci dinamakan Sabtu Suci/Sabtu Sepi, sebab pada hari itu Tubuh Yesus tinggal dalam makam. Kita berkabung. Tidak diadakan Misa. Kebangkitan Kristus baru mulai dirayakan pada malam harinya, dalam upacara Malam Paska. Upacara itu dimulai dengan tuguran. Kita berjaga sambil merenungkan nubuat-nubuat dari para nabi dan menantikan kebangkitan Tuhan.

 

5. Masa Paska

Masa Paska mulai pada hari Minggu Paska dan berakhir pada hari Pentakosta. Pentakosta berasal dari bahasa Yunani yang berarti “Hari ke-50”. Sebab  perayaan kebangkitan Kristus dimulai pada hari Paska, tetapi diteruskan sampai hari yang ke 50 itu. Selama masa Paska imam memakai kasula putih, sebab putih adalah warna kegembiraan.

Kenaikan Tuhan ke surga kita rayakan pada hari ke 40 sesudah kebangkitanNya. Ia berjanji kepada para muridNya akan datang lagi yaitu pada akhir zaman untuk mengadili semua orang.

Hari Pentakosta menutup masa Paska, warna dari hari ini adalah merah. Merah melambangkan Roh Kudus (lidah api) dan cinta kasih. Banyak orang kudus rela mati bagi Dia. Misalnya Santo Petrus dan Paulus dan juga Santo Tarsisius. Merah juga melambangkan darah dan para martir.

6. Masa Biasa

Masa yang bukan Adven, Natal, Prapaska atau Paska dinamakan Masa Biasa. Lamanya 33 (atau 34) minggu. Warna liturgi adalah hijau.

Dalam Masa Biasa terdapat beberapa hari raya penting :

-          Tritunggal Mahakudus adalah hari Minggu sesudah Pentakosta.

-          Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus adalah hari Kamis berikutnya, dirayakan hari raya Sakramen Mahakudus didirikan Kristus ketika Kamis Putih.

-          Hari Raya Hati Kudus Yesus adalah hari Jumat setelah hari Kamisnya. Cinta kasih Kristus paling nampak di salib, ketika lambungNya ditikam dengan tombak, sehingga lambung yang terbuka memancarkan darah dan air.

-          Hari Raya Kristus Raja adalah Minggu terakhir dalam tahun liturgi. Kita mengakui dan merayakan Kristus sebagai Raja semesta alam. Hari Minggu ini sekaligus menutup semua perayaan selama satu tahun.

 

Sikap-Sikap Liturgi

Berlutut

Bertekuk lutut berarti memperkecil diri dihadapan Allah. Orang yang sombong selalu mengangkat kepalanya dan menegakkan badannya, merasa lebih tinggi, lebih hebat daripada orang lain. Sebaliknya, orang rendah hati senantiasa menyadari bahwa dirinya amat kecil di hadapan Tuhan. Maka ia berlutut.

Tunduk Kepala

Menunudukkan kepala dan membungkuk merupakan cara-cara menghormati seseorang. Membungkuk adalah tanda penghormatan yang lebih besar. Di altar kita tidak hanya menundukan kepala, tetapi sungguh membungkuk untuk merendahkan diri.

Berdiri

Pada permulaan Misa, bila imam bersama dengan misdinar datang ke altar, umat berdiri. Sikap berdiri itu merupakan tanda hormat kepada imam yang mewakili Kristus. Berdiri yang baik adalah berdiri tegak dengan kedua kaki dan tidak bersandar pada apapun.

Duduk

Duduk adalah sikap yang tenang. Duduk adalah sikap orang sedang memikirkan atau mendengarkan sesuatu. Misalnya duduk mendengarkan khotbah, sikap ini menolong kita agar mendengarkan dengan penuh perhatian dan merenungkan apa yang baru didengarnya.

Berjalan

Kita berjalan, kalau kita ingin menuju suatu tempat untuk melakukan sesuatu. Sama halnya di gereja. Tetapi di gereja tidak pernah tergesa-gesa. Untuk Tuhan kita selalu mempunyai waktu seluas-luasnya. Misdinar yang berjalan tergesa-gesa seperti orang gugup, tidak dapat menciptakan suasana tenang dan khidmat.

Mengatup tangan

Dari pagi hingga malam hari kita terus-terusan memakai tangan untuk segala macam keperluan. Tangan kita selalu sibuk. Tetapi bila kita mengatup tangan, kita menjadi tenang. Hentikan kesibukan. Kita dapat memusatkan pikiran, dengan menyadari bahwa Kristus bersama dengan kita. Kita berani menyerahkan jiwa dan raga kepadaNya, biarlah Dia yang menjaga dan memelihara kita.

Berdoa dengan tangan terentang

Dalam misa kita dapat melihat imam beberapa kali merentangkan tangan, yaitu bila mengucapkan doa. Berdoa dengan tangan terentang adalah suatu sikap doa yang sudah dipakai sejak abad-abad pertama. Dengan sikap itu kita menyatakan penyerahan kita kepada kehendak Bapa. Sikap itu mengingatkan kita kepada Yesus yang rela merentangkan tangannya di atas kayu salib. Maka selayaknya kita mengikuti sikap itu, ketika sedang menyanyikan / berdoa Bapa Kami.

Membuat Tanda Salib

Dengan membuat tanda salib kita mengenangkan pembaptisan kita “Demi nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus”, tanda salib merupakan tanda iman kita. Tanda itu kita gunakan untuk memulai dan mengakhiri doa yang kita panjatkan. Ada pula tanda salib kecil yang biasa kita lakukan dengan ibu jari tiga kali ketika Bacaan Injil.

Adapun kata-katanya adalah “InjilMu kuterima dengan budi, kuakui dengan mulutku dan kusimpan dalam hatiku”

Mengecup

Mengecup adalah tanda untuk menyatakan bahwa kita mencintai seseorang atau sesuatu. Ibadat Ekaristi dirayakan di altar, bahkan Tubuh dan Dara Kristus diletakan di altar. Maka pada awal dan akhir Misa, imam selalu mengecup altar. Itu sebagai tanda bahwa ia menyatakan rasa cinta dan hormatnya bagi altar sebagai tempat kehadiran Kristus.

Bersalaman

Orang bersalam-salaman dengan banyak cara. Dalam Misa, sebelum komuni, imam kadang-kadang mengajak umat untuk bersalaman (Salam Damai). Hal itu dilakukan dengan berjabat tangan. Kita mau hidup rukun dengan Tuhan, berarti kita mau hidup rukun dengan sesama kita.

Menepuk dada

Menepuk dada adalah tanda penyesalan. Kita lakukan ketika mengatakan “Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa” dalam doa : saya mengaku. Juga pada mengakhiri doa Anak Domba Allah dengan kata “Kasihanilah kami” kita melakukannya dengan mengepal tangan kanan dan memukul ke dada.

Bersila

Bersila adalah sikap duduk dengan melipat dan menyilangkan kaki. Sikap doa khas Timur ini, yang tersebar di seluruh Asia Selatan dan Timur, dari India sampai ke Jepang, adalah amat baik untuk dipakai dalam perayaan liturgi juga. Pada saat-saat tertentu misdinar dapat memakai sikap ini.

Sembah

Sembah juga dikenal di banyaj negara Asia sebagai pernyataan hormat dan penyembahan. Alangkah baiknya bila kita pakai, untuk menyembah Sakramen Mahakudus.

Ruangan di gereja

Sakristi : Tempat imam, misdinar dan petugas liturgi lainnya mengenakan busana liturgi. Di Sakristi biasanya terdapat almari busana liturgi  dan berbagai perlengkapan ibadat, juga buku-buku bacaan.

Kamar  Pengakuan : Tempat menerimakan Sakramen Pengakuan Dosa yang terdiri dari dua bilik sekat, untuk imam dan peniten (Orang yang mengaku dosa).

Panti imam : ruangan altar yang terdapat :

- Tarbenakel : (Sudah dijelaskan pada artikel tempat menyemayamkan.red)

- Meja Altar : Tempat imam mempersembahkan korban Misa

- Mimbar/ambo : Tempat lektor membacakan kitab suci dan imam berkotbah.

- Kredens : Meja untuk meletakan berbagai  perlengkapan persembahan.

- Sedilia : Tempat duduk imam

Panti umat : Ruangan tempat duduk umat.

Tempat air suci : Terletak di samping pintu-pintu gereja.



Tempat menyemayamkan Sakramen Kudus

Tarbenakel : Kemah suci. Tempat Sakramen Mahakudus bersemayam yang berada di altar (Panti Imam). Lampu Tuhan dinyalakan apabila tarbenakel berisi Sakramen Mahakudus. Lampu itu melambangkan Yesus sedang bersemayam di sana.

Monstrans : Alat untuk mentahtakan Sakramen Mahakudus (Hosti Besar) dalam ibadat pujian Sakramen Mahakudus (Salve).

Sibori : Bentuknya seperti piala, namun lebih besar dan ada tutupnya. Fungsinya untuk menyimpan Sakramen Mahakudus dalam tarbenakel.

Piksis : Bentuknya seperti kaleng kecil yang isinya lebih sedikit daripada sibori. Fungsinya untuk menyimpan komuni orang sakit dan menyimpan hosti besar.

Peralatan Liturgi

Korporal : Berasal dari kata corpus (Latin). Artinya tubuh, karena di sanalah akan diletakan  Tubuh Kristus. Berbentuk kain persegi empat lebar yang dibentangkan di altar sebagai alas piala, patena dan piksis.

Palla : Kain putih persegi yang dibuat kaku dan berfungsi sebagai penutup piala.

Hosti besar : Berfungsi sebagai Tubuh Kristus, sama dengan hosti kecil. Hosti besar biasanya digunakan pada Misa besar bersama dengan Uskup.

Patena : Sejenis piring kecil yang berlapis emas / sejenisnya, merupakan tempat meletakan hosti besar.

Sendok kecil : Berfungsi untuk mengambil air yang akan di campur dengan anggur.

Purificatorium : Sehelei kain kecil persegi yang dapat dilipat menjadi tiga dengan salib di tengah. Fungsinya untuk mengeringkan piala.

Piala/kaliks/cawan : Alat minum yang terbuat dari bahan berharga (biasanya emas). Ke dalam piala inilah anggur akan dituangkan dan dicampurkan dengan sedikit air.

(Nama-nama di atas merupakan susunan piala dari atas ke bawah).

Ampul : Dua buah gelas kecil yang berisi air dan anggur. Bila gelas tersebut terbuat dari kaca(beling).  Biasanya ada tulisan A (aqua=air) dan V (vinum=anggur).

Lavabo dan kainnya : Tempat air untuk mencuci tangan imam yang selalu disertai dengan kain lavabo.

Perlengkapan Misa Meriah :

Hisop/aspergil : Alat pemercik yang dipakai untuk memerciki umat dengan air suci yang melambangkan pembersihan dosa (awal misa) atau mengingatkan akan pembaptisan. Disebut hisop merupakan nama tanaman yang dipakai orang Yahudi untuk memerciki. Aspergil, karena ketika pemercikan dilakukan biasanya diiringi dengan lagu “Asperges Me” (Latin), yang berarti perciki aku.

Wiruk : Terdiri atas dua benda; navikula (tempat dupa, berbentuk seperti kapal laut) dan turibulum (pendupaan).

Kandelar : Tempat lilin.

Pakaian Liturgi

Jubah/alba : Busana putih panjang yang harus dipakai imam dalam perayaan Ekaristi. Warna putih jubah/alba melambangkan kesucian dan kemurnian. Apabila tidak menggunakan jubah, imam akan mengenakan alba.

Amik : Kain penutup leher berbentuk persegi empat yang dipasang pada bahu imam. Amik melambangkan perisai dan keselamatan.

Singel : Tali ikat pinggang yang panjang dan berfungsi untuk mengikat stola dan alba agar tidak kendor/kepanjangan. Singel melambangkan penguasaan diri.

Stola : Selendang kecil yang dikalungkan pada leher imam dan ujungnya turun di atas dada. Stola melambangkan kuasa imamat dan tanggung jawab. Stola juga dikenakan Uskup dan diakon, Uskup mengenakannya menjulur ke bawah di depan dada, imam mengenakannya dari bahu menyilang di depan dada, dan diakon mengenakannya dari bahu kiri menyilang ke lengan kanan.

Kasula : Busana liturgi resmi imam pada saat memimpin Misa yang berbentuk mantol lebar. Kasula melambangkan keutamaan Ilahi.

Dalmatik : busana liturgi resmi diakon dalam upacara ibadat.

(Sebagai catatan warna stola dan kasula/dalmatik  mengikuti warna liturgi).

Superpli : busana putih seperti alba, namun lebih pendek. Biasanya dikenakan oleh imam dan diakon di luar perayaan Ekaristi. Busana atas misdinar terkadang juga berupa superpli.

Velum : Kain persegi lebar panjang (2-3 meter) yang dikenakan imam atau diakon untuk menyelubungi pegangan mostrans/sibori pada saat Salve dan perarakan Sakramen Mahakudus (Kamis Putih).

Busana misdinar : Biasanya terdiri dari jubah berwarna, singel dan krah lebar. Atau gaun panjang, superpli dan krah lebar.

Sketsa Altar Paroki Kramat

Created by Michael Christandy

Mars Misdinar Kramat

Paroki Hati Kudus Kramat

Syair dan lagu : Eduard Salvatore da Silva

Do : G 4/4 – tempo 95-105

Tenang, penuh semangat.

Ini kami putra -putri altar di Paroki Hati Kudus Kramat

kami anak berani dan mandiri, bersatu untuk melayani

kami maju dengan semboyan kami, datang melayani bersuka cita

dan dengan semangat santo kami, Santo Tarsisius

Reff:

Dari pertama sampai akhirnya kita selalu bersama

penuh semangat dan bersahabat putra-putri altar Kramat

Visi misi bagi gereja membangun pribadi yang dewasa

dan dengan semangat melayani insan umat Allah

(Back to reff, *coda)

* coda

Putra – putri altar Kramat (2x)

Warna – warna Liturgi

Merah :

Melambangkan cinta kasih, api, darah, kekuatan dan Roh Kudus. Biasanya dipakai pada hari Minggu Palma, Jumat Agung, Pentakosta serta pesta para martir.

Putih :

Melambangkan kegembiraan dan kesucian. Biasanya dipakai pada pesta Tuhan Yesus Kristus, Ibu Maria, Para Malaikat dan Orang Kudus.

Hijau :

Melambangkan harapan dan kesuburan. Biasanya dipakai pada saat Masa Biasa.

Ungu :

Melambangkan tobat, kesedihan dan keprihatinan. Biasanya dipakai pada Masa Adven dan prapaska dan juga Misa Arwah.

Riwayat hidup St. Tarsisius

Santo Tarsisius lahir pada tanggal 15 Agustus sekitar tahun 250 di Roma. Setiap pagi, sebelum fajar ia sering melewati jalan-jalan dan lorong-lorong kota Roma ke tempat orang Kristiani berkumpul. Gua – gua bawah tanah, yang sebetulnya adalah kuburan, mereka gunakan sebagai tempat pertemuan. Tempat seperti itu dinamakan Katakomba. Yaitu sebgangn lurus panjang gelap dan ditutup oleh batu panjang. Mereka hanya berani berkumpul pada malam hari, karena agama mereka terlarang.

Pada zaman kaisar Valerianus, orang-orang Nasrani tidak diperkenankan untuk menerima sakramen (Tubuh Kristus) dan diharuskan untuk menyembah berhala. Bila tidak mau menyembah berha, maka akan ditangkap dan dibunuh. Pada suatu hari seperti biasa Tarsisius pergi ke Katakomba untuk mengikuti Misa. Pada saat itu Bapa Suci (Sri Paus) ingin mempersembahkan misa sendiri. Tapi hanya sedikit orang yang datang, karena kebanyakan dari orang Kristiani sudah ditangkap, adapula yang mengungsi ke luar kota untuk menyelamatkan diri. Tidak seperti biasa Tarsisius tidak langsung pulang, tetapi membantu untuk mengatur alat Misa. Saat itu Sri Paus mengeluh bahwa ada petugas penjara yang datang secara diam-diam. Dia bilang tawanan-tawanan Nasrani ingin sekali menyambut Tubuh Kristus sebelum dibunuh. Tetapi keadaannya tidak memungkinkan karena wajah Sri Paus sudah tidak asing bagi kebanyakan orang.

Maka dari itu Tarsisius memberanikan diri untuk memberikan sakramen kepada tawanan-tawanan tersebut. Pada pagi-pagi benar, Tarsisius berjalan menelusuri setiap Katakomba dan menuju penjara dimana para tawanan berada, dia membawa Hosti Suci dalam kotak emas dan dikalungkandengan tali pada lehernya serta menutupinya dengan toga yang ia pakai. Tetapi malang bagi nasibnya, di tengah perjalanan ia bertemu dengan teman-teman sekolahnya, teman-teman mengetahui bahwa ia membawa sesuatu dari orang Kristiani, mereka meminta paksa dan Tarsisius menolaknya, sehingga Tarsisius dilempari batu, dipukuli dan ditendang sampai sekarat.

Tak lama kemudian ia bertemu dengan seorang prajurit yang kebetulan beragama Nasrani. Anak-anak itu pun lari pontang-panting karena teriakan prajurit itu. Setelah itu ia meminta tolong kepada prajurit tersebut untuk mengantarkannya kepada para tawanan. Setelah prajurit itu bersedia untuk membawa Hosti Suci, Tarsisius pun dibawa ke rumah orang Kristiani terdekat dan ditinggalkan, karena prajurit itu mau mengantarkan Komuni Suci secara diam-diam kepada para tawanan. Tak lama kemudian Tarsisius meninggal, lukanya terlalu parah. Ia dimakamkan di Katakomba Kalikstus, di Jalan Apia, dekat makam para Sri Paus.

Dari peristiwa tersebut maka Gereja memilih dia menjadi pelindung akolit(proakolit), karena telah mengorbankan hidupnya demi Ekaristi Kudus. Martir suci ini diperingati setiap tanggal 15 Agustus.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.